Allah, yang Maha Kuasa, dalam kebijaksanaan-Nya, memilih untuk memelihara Maria dari dosa asal sejak saat konsepsinya, untuk memastikan bahwa ia dapat menjadi Bunda Tuhan tanpa ada sesuatu yang menghalangi kesucian dan kemuliaan-Nya. Ini adalah anugerah yang luar biasa, yang melebihi segala pemahaman kita, tetapi itu adalah hasil dari kehendak Allah yang sempurna dan penuh kasih.
Dalam Summa Theologica, saya mengajukan argumen teologis untuk membuktikan bahwa Maria memang bebas dari dosa asal. Sumber pertama dari anugerah yang diterima Maria adalah kuasa Allah sendiri. Allah yang memilih Maria untuk menjadi Ibu-Nya tidak mungkin membiarkan ciptaan-Nya, yang ditentukan untuk menjadi sarana penebusan dunia, terkontaminasi oleh dosa. Karena itu, Maria dipelihara dari dosa asal agar dia dapat sepenuhnya menerima Kristus dan melahirkan-Nya tanpa cacat apapun.
Dengan demikian, Maria menjadi teladan sempurna bagi kita. Meskipun ia bebas dari dosa asal, ia tetap manusia, dan karena itu, ia tetap menunjukkan kesucian dan kerendahan hati. Maria tidak hanya diberikan kebajikan khusus oleh Allah, tetapi ia juga merespons dengan penuh iman dan kesetiaan terhadap kehendak-Nya. Ia menerima peran yang diberikan oleh Tuhan dengan sepenuh hati, tanpa ragu, dan menjalani hidupnya dengan penuh kasih.
Sebagai umat Kristiani, kita dipanggil untuk mengikuti teladan Maria. Meskipun kita mungkin tidak dipelihara dari dosa asal seperti Maria, kita tetap diundang untuk memelihara kesucian hidup kita dengan menerima rahmat Allah yang diberikan melalui Sakramen-Sakramen dan hidup dalam kasih yang murni. Maria adalah contoh nyata dari bagaimana hidup menurut kehendak Tuhan dapat mengarah pada kesucian sejati.
Oleh karena itu, marilah kita memuliakan Maria, yang tak ternoda, dan berdoa agar dengan pertolongannya, kita dapat mengikuti teladannya dalam hidup yang kudus dan penuh kasih kepada Allah.”
Sumber:
Summa Theologica, III, q. 27, a. 2, oleh Santo Thomas Aquinas.
