“Kilasan Area Tepi Barat“
Oleh Willy Chrysantus
Pada Tahun 1966, Bapak P.A.S Parera Fernandez Tokoh Awam, Ketua Majelis Gereja Katolik Bonipoi Kupang dan Pejabat Tinggi Pemda NTT, mengadakan serangkaian pembicaraan dengan pihak Keluarga Tuan Tanah dari suku Oematan di Oepura dan di rumah pribadi P.A.S Parera Fernandez di Rimba Kepok, saat ini masuk RT 26/RW 10 Kelurahan Naikoten I.
Rangkaian pembicaraan tersebut menghasilkan kesepakatan pemberian tanah untuk Pemerintah a.l yang saat ini menjadi kompleks Asten, Polda, Kompleks Rujab Gubernur sampai Kantor Gubernur, dll; Beliau pun berhasil mendapatkan hadiah tanah bagi Gereja Katolik untuk membangun gedung gereja dan sekolah Katolik di kampung Wae Werang Desa Naikoten II Kecamatan Kota Kupang. Tanah untuk Gereja Katolik adalah bagian dari satu area luas berbatu karang hitam, gersang, kurang air, ditumbuhi alang-alang, pohon kom dan merupakan Padang Penggembalaan ternak sapi. Penyerahan tanah oleh Penguasa Tanah suku Oematan FR.Habel Oematan diakukan pada tanggal 16 Agustus 1966 yang kemudian diperkuat lagi pada tanggal 21 Nopember 1967. Diatas bidang tanah gereja yang luas itu sejak tahun 1970, pada masa P. Herman Keizer, yang menggantikan Pastor Paroki Pertama P.Ande Matutina,SVD., dibangun gedung Gereja, Pastoran, sekolah TK, SDK,SMPK, Rumah Guru, Biara PRR, Asri Stella Maris, dll.



Di samping barat gereja, terdapat sisa hamparan tanah berbatu karang yang terbuka luas. Areal itu menjadi tempat bermain anak-anak, tempat latihan organisasi kemahasiswaan atau Kepemudaan, bahkan tempat Bung Kanis menyelenggarakan kampanye PDI menjelang Pemilu 1982. Dimalam hari area itu menjadi sepi, gelap gulita, tanpa penerangan.
Tanggal 29 Juni 1982, Uskup Kupang Mgr. Gregorius Monteiro, SVD., mengeluarkan SK yang isinya menetapkan sejak tanggal 1 Juli 1992, Paroki St.Yoseph Naikoten Kupang dinyatakan sebagai paroki berdikari; Artinya paroki yg mampu memenuhi kebutuhannya sendiri secara materil dan personil.
Bulan April 1983, pada masa Rm. Daniel Afoan, Pr menjadi Pastor Paroki, Dewan Pastoral Paroki Pimpinan Bpk. Alo Asan, SH., mulai membangun pagar keliling yang meliputi kompleks gereja dan kompleks sekolah. Sebuah jalan dibuat membelah ditengah-tengah antara kompleks sekolah dan Gereja. Secara gotong-royong setiap Kelompok Umat Basis mengangkut batu dari Stasi Noelsinas dan menurunkannya di kompleks gereja dan sekolah. Selain itu DPP juga menjadwalkan semua KUB untuk menggali fonderen pagar dan mengerjakan pagar secara bergiliran dibantu oleh Organisasi Pemuda Paroki . Bersamaan dengan itu pada tahun 1983, dibangun sebuah taman dan Patung St.Yoseph di depan gedung gereja, agar langsung menyapa siapa saja yang memasuki gerbang utama Halaman Gereja.
Sejak selesainya pembangunan pagar gereja, pemanfaatan area kosong sebelah barat gereja adalah untuk pertandingan voli memeriahkan pesta pelindung paroki tanggal 19 Maret, HUT Paroki tanggal 31 Oktober dan kegiatan latihan organisasi oleh berbagai organisasi kepemudaan katolik binaan Bung Kanis seperti : Pemuda Paroki, Api Reinha, MKS, PMKRI, dll. Saat itu Paroki St. Yoseph Naikoten Kupang adalah pusat pembinaan kaum muda dengan kehadiran ribuan mahasiswa yang kuliah di Undana, APDN, ATK, UNWIRA, dll. Sejajar pagar belakang TKK Naikoten setiap pagi sampai siang ibu-ibu dari belakang gereja menggelar dagangannya untuk jajan anak sekolah TK, SD, SMP dan SMEA Katolik.

Setelah tahun 1984, Kegiatan jalan salib Jumat Agung setiap tahun dipindahkan dari mengitari gedung gereja ke areal ini dengan mendirikan empat belas salib papan berukuran sama besarnya sebagai Stasi-Stasi jalan salib. Setiap KUB atau gabungan KUB mendapat jatah untuk menghiasi stasi jalan salib yang dipercayakan kepada mereka. Setelah Jalan Salib, semua salib dicabut dan disimpan kembali di gudang paroki.





Tahun 1984 Gereja Katolik Indonesia merayakan 450 tahun Agama Katolik masuk Indonesia. Paroki St.Yoseph Naikoten Kupang ditunjuk untuk menjadi tuan rumah perayaan di tingkat Keuskupan Kupang. Sebuah panggung megah dan permanen dibangun di area kosong sisi barat gedung gereja bekerjasama dengan Bengkel Keuskupan Agung Kupang dan Organisasi Pemuda Paroki. Panggung dirancang secara permanen untuk misa, dan pentas seni. Pada waktu itu, inilah panggung pertunjukan permanen satu-satunya di NTT. Di Panggung itu dan area sekitarnya diadakan berbagai perlombaan dan pertandingan antar Paroki se Keuskupan : Lomba lektor, lomba kor, berbagai jenis pertandingan olahraga, seminar, dll. Juga diadakan Pameran perjalanan Keuskupan Kupang dan sejarah masing-masing Paroki. Pembukaan pameran, atas usaha Gubernur Ben Mboi, dilakukan oleh Menteri P&K RI Prof.Dr. Nugroho Notosusanto. Misa puncak dimeriahkan kor gabungan diiringi Orkes keroncong Handayani dan band Prajamukti dengan Dirigen Drs. Apoly Bala.

Pada masa P.Yohanes Pfeffer,SVD., Pertengahan Tahun 1989, Uskup menetapkan Paroki St.Yoseph Naikoten Kupang menjadi tempat Pentahbisan imam baru. DPP segera membentuk Panitia Pentahbisan yang melibatkan semua anggota DPP diketuai Bpk. Suyono Hartoyo yang saat itu menjabat sebagai Sekwilda Propinsi NTT ditambah Ketua-Ketua KUB. Bpk.Thomas Kadha dipilih sebagai koordinator kor gabungan dari semua Kor KUB dan Kor Sekarsari. Bpk.Apoly Bala ditunjuk sebagai dirigen. Kor diringi band Prajamukti milik Pemda NTT pimpinan Bpk J. Rao yang dimotori oleh Bpk.Eddy Busa, Hans Busa, Nong Manjiku, Organis Bpk.Frans Dahat,dll. Penari diambil dari sanggar Depdikbud pimpinan Bpk.Niko Nonoago. Latihan kor dilakukan setiap hari minggu dan berlangsung selama satu bulan. Sementara itu selama dua minggu menjelang Pentahbisan dilaksanakan malam kesenian di panggung 450 tahun. Setiap KUB dan organisasi kemahasiswaan/Kepemudaan dipersilahkan untuk mengisi acara. Acara yang ditampilkan berfariasi : menyanyi, menari, drama, dll. Band Prajamukti setia menemani umat Paroki St.Yoseph Naikoten Kupang setiap malam selama dua Minggu dari pkl.19.00 sampai pkl.23.00 WITA. Hari Minggu sore tanggal 2 Juli 1989, Mgr.Gregorius Monteiro memberikan sakramen Imamat kepada Rm. Anselmus Leu, Pr, Rm.Alexander Rusae,Pr dan Rm. Andreas Sika, Pr, Setelah itu dilanjutkan dengan resepsi di tempat yg sama.
Tahun 1991, P. Blasius Fernandez, Pastor Paroki saat itu, membentuk organisasi mahasiwa bernama Fraternitas yang khusus untuk mendapatkan bantuan Keuangan dari Paroki, apabila mengalami kesulitan keuangan. Pada Jumat agung 1991 Fraternitas untuk pertama kalinya mementaskan tablo di Area barat. Tablo yang lebih mirip tontonan daripada ibadat ini sangat dikritik oleh umat, karena menggantikan jalan salib jumat agung dengan drama. Pada tahun-tahun selanjutnya Tablo dipentaskan oleh Mudika dengan menyesuaikan teksnya dengan ibadat Jalan Salib.
Awal tahun 1992, P. Blasius gencar mengutarakan pembangunan Aula dan Gua Maria. Alasannya Gua Maria Lasikode sudah terlalu sempit untuk misa gabungan umat katolik sekota Kupang pada bulan Mei dan Oktober; Sehingga mengganggu lalulintas umum. DPP sejak awal telah mengumpulkan uang sebanyak Rp.75 juta untuk membangun aula yang dirancang secara modern. Rencananya aula dibangun disisi timur Gereja. Sedangkan dipojok timur pagar gereja dibangun Gua Maria; Dengan pertimbangan jauh dari jalan raya dan lalu lintas masyarakat. Rupanya Pater Blasius tidak sabar dan berkehendak lain. Beliau membangun gua justru didalam panggung peringatan 450 tahun Agama Katolik Masuk Indonesia. Aula ia bangun diatas lapangan voli belakang Gereja tempat sumber air yang pernah di Bor; dan karena debitnya yang sangat besar akhirnya di tutup pakai lempengan beton oleh Br.Albert, SVD kepala bengkel Keuskupan yang saat itu tinggal di Paroki St.Yoseph Naikoten Kupang . DPP kemudian mencoba menghadirkan Kepala Delsos KAK P.Florante Lames, SVD, yang merupakan seorang insinyur sipil, untuk memberi penjelasan kepada P.Blasius agar membangun sesuai master plan yang ada yang secara arsitektural mendukung perkembangan spiritual umat, tetapi P.Blasius tidak bergeming. Gua dan Aula tetap dibangun ditempat yang Ia inginkan. Sebagai bonus, kontraktor mendirikan sebuah bangunan yang disiapkan untuk dapur dan sekretariat kalau ada kegiatan di Aula. Pengerjaan Gua diserahkan kepada Bpk. Herman Joseph, seorang seniman alumnus ASRI Jogyakarta, yang merupakan anggota Fraksi Golkar DPRD Prop NTT dari Dapil Maumere. Beliau dibantu oleh dua orang tukang. Pengerjaan Gua dapat diselesaikan pada tanggal 30 Oktober sore sekitar pkl.18.00 wita. Patung Maria disumbangkan oleh Pak Hendrikus Fernandez, Gubernur NTT yang merupakan adik kandung dari Pater Blasius. Pater Blasius kemudian menjelaskan bahwa yang ia bangun adalah sebuah Taman Doa dengan Pusatnya Gua Maria. Inilah taman doa pertama di NTT. Pater Blasius menamainya Taman Doa Maria Imaculata Naikoten Kupang. Sedangkan Aula ia beri nama Aula St.Yoseph Naikoten. Ketika ada orang yang berkeberatan membangun Gua diatas panggung 450 tahun, beliau menjawab dengan tersenyum “Tidak perlu ada tempat-tempat historis karya manusia”. Untuk memeriahkan acara pemberkatan taman doa maka dilaksanakan kegiatan lomba kor yang dimenangkan oleh KUB GES di Oepura dengan Dirigen Sdr. Yoseph Rero Neno.
Tanggal 29 Oktober Pater Blasius menyerahkan selembar Surat Keputusan dari Uskup Agung Kupang Mgr. Gregorius Monteiro yang menetapkan Taman Doa Maria Imaculata sebagai tempat kudus yang layak diziarahi untuk dibacakan pada misa puncak. Foto copy SK Uskup tersebut ditempel di Papan pengumuman Paroki di bawah pohon Mangga depan Kantor Paroki.
Ketika saat pengresmian tiba, mendadak Uskup Montero harus berangkat ke Jakarta. Pengresmian kemudian dilakukan oleh Vikjen KAK, Rm.Piet Olin,Pr pada Hari sabtu tanggal 31 oktober 1992 pkl.16.00 wita. Misa dibanjiri umat dari lima paroki sekota Kupang karena sekaligus menutup kegiatan bulan Rosario yang biasanya diselenggarakan di Gua Maria Lasikode Kupang. Koor dibentuk dengan menggabungkan kor-kor KUB, mengambil pola kor pentahbisan tahun 1989. Kor intinya adalah Sekarsari dan Kor KUB GES. Bertugas sebagai koordinator Koor Gabungan adalah Bpk.Thomas Kada, Dirigen pak Apoly Bala dengan iringan Orkes Paroki pimpinan Bapak Eddy Busa dan organis Sr. Puresa. Orkes Paroki dibentuk oleh P.Blasius Fernandez,SVD., dengan personil : Bpk.Eddy Busa, Bpk.John Kapilawi, Bpk.Claudius Sareng Kelang, Bpk. Paulus Pake dan Bpk. Frans Dahat. Pak Eddy Busa menyebut jenis musik mereka adalah Blast Music.
Sepanjang misa sejak lagu pembukaan sampai lagu penutup disertai tarian dari sanggar tari Depdikbud pimpinan Bpk. Niko Nonoago. Para penari sanggar beragama non katolik, kecuali Nona Liliz Umbu Zaza. Pengresmian diawali dengan pembukaan tabir kain berwarna biru yang menutupi gua dan Patung Maria, lalu Pemberkatan Gua, Aula dan Bangunan sekretariat, disusul Doa Sulung oleh Bpk.Hendrik Fernandez dan Ibu dengan latar suara lembut paduan suara gabungan yang menyanyikan lagu Sancta-Sancta Maria dan hanya diiringi orgel yang dimainkan oleh Bpk.Frans Dahat. “Kuserahkan kepadamu O Bunda Maria, Propinsi ini” adalah bagian dari penggalan doa sulung yang sangat indah itu. Kesan Rm.Vikjen “baru kali ini saya rasa pimpin misa yang benar-benar misa” yang disambut P.Blasius dengan tertawa terbahak-bahak. Panitia pengresmian diketuai oleh Bpk. Anton Pattymangoe dengan Aktifis Pemuda Paroki sebagai ujung tombaknya.
Keesokan harinya tanggal 1 November 1992, pada sore hari sekitar Pkl. 15.00 WITA semua lubang pada pagar gereja mendadak ditutup pakai seng oleh Bpk. Andreas Lanang dan dipaku kuat-kuat. Pintu belakang dan pintu samping di kunci. Ternyata sejak tanggal 2 Nopember 1992 diadakan Retret Plus Komisi Kerawam KAK bekerjasama dengan Kanwil Agama Propinsi NTT. Peserta retret berjumlah 113 orang kaum muda dari lima Paroki sekota Kupang. Peserta menginap di Losmen Cahaya Bapa. Retret dibuka oleh Rm.Vikjen Pit Olin di Aula St.Yoseph Naikoten. Retret dipimpin dua imam dari Keuskupan Agung Jakarta Rm.Yakobus San Dharma Akbar,Pr dan Rm.Martinus Hadiwijaya,Pr dengan dibantu oleh beberapa pemuda dari Jakarta, Jokyakarta, Maumere dan Ngadha Flores. Acara retret mengambil lokasi di Gereja, Aula dan taman Doa. Dari jam 04.00 pagi sampai pkl.24.00 WITA. Dikemudian hari kegiatan ini dikenal dengan nama Retret Agung THS-THM Kupang, yang merupakan cikal bakal perkembangan THS-THM keseluruh Timor, Alor, Rote, Flotim dan Lembata.



Desember 1992, menyongsong musim hujan, Pater Blasius meminta THS-THM dan Fraternitas, untuk menggali lubang dan menanam pohon di area Taman Doa. Anakan pohon Ia dapatkan dari Dinas Kehutanan Provinsi. Tujuannya agar nanti kalau ada perayaan besar, umat dapat mengikuti misa di bawah naungan pohon. Taman Doa kemudian juga menjadi tempat latihan rutin THS-THM sejak tahun 1992 pada setiap hari Senin, Rabu dan Jumat.
Bulan Oktober 1995, ketika Rm. Arnold Menjadi Pastor Paroki, Keuskupan menunjuk Paroki St.Yoseph Naikoten Kupang menjadi tempat penyelenggaraan 50 Tahun Kemerdekaan RI dan Tahun Pemuda Sedunia Tingkat Keuskupan Agung Kupang. Diadakan berbagai pertandingan dan perlombaan antar Paroki Sekota Kupang di Paroki St.Yoseph Naikoten Kupang antara lain : Voli putra/i, tarik tambang, tenis meja, lomba dansa, pameran ordo/konggregasi, biara-biara, Paroki-Paroki ,dll.
Misa puncak diadakan di Taman Doa dipimpin oleh Bapak Uskup Gregorius Monteiro, didampingi Vikjen Rm. Pit Olin dan Rm. Arnold Bria yang juga merangkap sebagai Sekretaris Uskup. Kor dibentuk dari gabungan Biarawan/ti sekota Kupang, yang dikoordinir oleh Fr.Sarto, BHK., dengan dirigen Apoly Tukan. Ketua Panitianya adalah P.Anton Riberu,SVD. Pada misa inilah sebuah lagu berjudul “Wartakan cinta Tuhan” ciptaan Bpk.Apoly Bala dinyanyikan untuk pertamakalinya. Lagu post komunio ini kemudian menyebar dengan cepat ke seluruh Indonesia.
Rm.Arnold Bria, berusaha memperindah taman didepan gereja yang ia lengkapi dengan beberapa tanaman bunga, pohon-pohon dan air mancur. Beliau mengganti pagar didepan gereja dengan pagar dan pintu gerbang yang lebih megah, termasuk pintu gerbang barat disamping taman doa menuju kompleks persekolahan St. Yoseph Naikoten Kupang. Sementara itu suasana di Paroki St.Yoseph Naikoten Kupang kurang kondusif. Rm. Arnold melarang ibu-ibu penjual jajanan untuk anak-anak sekolah, agar tidak berjualan di jalan belakang pagar TKK. Sejak saat itu mereka berjualan di pinggir jalan masuk disamping luar pagar TK. Beliau juga menutup pintu Taman Doa arah sekolah sehingga anak-anak tidak lagi dapat bermain di Taman Doa atau di gua. Pimpinan TK juga dilarang membuka pintu TK ke Taman Doa sebagai pintu masuk dan keluar anak-anak TK.
Pada masa P. Yulius Bere SVD, sejak akhir Tahun 1999 sampai menjelang masa Pra Paskah 2000, dibangun Stasi-Stasi Jalan Salib di taman doa sumbangan wakil ketua Panitia Yubileum Agung 2000, Bpk. Krita Budi. Beliau adalah Kepala Pertamina NTT. Jumat 17 Maret 2000 diadakan upacara pemberkatan stasi-stasi jalan salib. Diawali dengan Doa oleh P.Yulius. Setelah doa diadakan pemberkatan setiap stasi oleh P.Yulius, diikuti Pendupaan oleh P.Mario. Mereka berdua didampingi ajuda masing-masing. Selanjutnya P.Mario memimpin jalan salib. Setelah jalan salib diadakan Misa oleh P.Yulius Bere dan P.Mario Petu. Sejak saat itu, salib dari papan yang biasanya ditancapkan menjelang jalan salib Jumat Agung tidak dipergunakan lagi. Stasi-stasi itu kemudian diberikan kepada semua wilayah untuk menatanya dengan bunga- bunga dan hiasan lain sepanjang tahun.





Sebagai penutup Tahun Yubileum Agung 2000 pada tanggal 31 Desember 2000 diadakan ziarah terakhir umat Paroki St.Yoseph Naikoten Kupang ke Taman Doa. Ada 5 Gereja yang ditetapkan oleh Bapak Uskup Agung Kupang YM Petrus Turang untuk diziarahi selama Tahun Yubileum Agung 2000; Yaitu Gereja Katedral Kristus Raja Kupang, Gereja St. Yoseph Naikoten Kupang, Gereja Sta. Maria Dolorosa Soe dan Gereja Gembala Yang Baik Kalabahi, Alor. Pada Pkl. 14.00 wita masing-masing umat KUB datang bersama secara berkelompok langsung ke taman Doa. Setelah jalan salib umat berdoa didepan Gua Maria. Selanjutnya diadakan misa penutup oleh Uskup Agung Kupang Mgr. Petrus Turang di dalam Gereja. Di akhir misa Bpk. Uskup memberikan berkat Indulgensi Penuh. Misa berlangsung dibawah pengawasan yang ketat, baik oleh aparat kemananan maupun oleh petugas THS-THM, mengingat peristiwa bom malam Natal beberapa hari sebelumnya pada 24 Desember 2000. Setelah misa diadakan resepsi di taman Doa. Pada waktu itu panitia telah menyiapkan 53 meja di dalam aula bagi setiap KUB untuk meletakan lauk- pauk yang mereka siapkan. Bapak Uskup Agung berturut-turut mendatangi setiap meja dan mengambil lauk dari 53 meja, dan kembali ke Taman Doa. Setelah acara santap malam diadakan sambutan-sambutan dan sebagai puncaknya ditandatangani Prasasti Yubileum Agung 2000, sebagai pengresmian renovasi dan pembangunan tiga menara gereja. Penandatanganan prasasti diiringi bunyi lonceng gereja yang baru dipasang dan diberi nama lonceng Yubileum, klakson mobil dan sirene. Dengan demikian Paroki St.Yoseph Naikoten Kupang telah melaksanakan dengan baik Tahun Yubileum Agung 2000 dan melakukan lima kali ziarah ke lima gereja, sesuai panduan yang dikeluarkan oleh Uskup Agung Kupang.

Pada masa Rm. Domi Faot, Bersamaan dengan penyelesaian Pembangunan Renovasi gereja secara menyeluruh, pembuatan taman di depan dan keliling gereja, menjelang tahbisan gereja tanggal 31 Oktober 2007, atas inisiatif Ketua Pembangunan sekaligus Wakil Ketua DPP Bpk. Frans Wongso, Gua Maria di Taman Doa direhab secara sederhana. Dinding yg rusak ditambal dan di cat kembali. Lalu diperindah dengan deretan bunga plastik dikiri dan kanan gua.
Pada masa Pastor Paroki P. Sbast Wajang, SVD, mulai sekitar tahun 2013, Pastor Rekan, Rm. Yanuar Kado,Pr bersama beberapa relawan memulai upaya penataan taman doa. Jalan masuk diperbaiki, pagar keliling diperkuat memakai tali nilon, dibangun enam tempat duduk dari beton dan bunga-bunga hidup di tata dalam puluhan pot berbagai ukuran.
Pada masa RP Dagobertus Sotaringgi,SVD., Tanggal 10 November 2017, setahun menjelang Pesta Emas Paroki, Gua Maria buatan tahun 1992 dihancurkan, lantainya dijebol dan proses pembangunan Gua Maria yg baru dimulai. 25 Maret 2018, mengawali misa Minggu Palem, Gua Maria yang baru diberkati oleh RD. Andre J Alo, Insiator sekaligus pimpinan para relawan pekerja Gua Maria yang baru. Pembangunan Gua Maria yang baru, adalah hasil karya RD Andre J. Alo, RD Yohanes Kartiba, Relawan bernama Laborem Exercens dan beberapa donatur.
Setelah Gua Maria selesai dibangun, area Taman Doa mulai ditata. Pagar dari tali nilon karya RD Yanuar Kado diseputar taman doa diganti dengan bronjong memakai batu alam dari Kolbano, Stasi-stasi jalan salib yang dibangun pada tahun1999, dihancurkan dan dibangun Stasi-Stasi baru yg lebih megah.
Jumat 19 Maret 2021, Setelah Misa Hari Raya St. Yoseph Suami St. Perawan Maria di Gereja, diadakan prosesi Patung St. Yoseph dan Patung St.Maria, sambil dilakukan Pemberkatan dan Pengukupan Stasi-Stasi Taman Doa Maria Immaculata Naikoten Kupang oleh RD Andre J. Alo dan RD Yohanes Kartiba. Tanggal 24 Maret 2021, Pembangunan gua dan bangunan pelindung dengan konstruksi atap yg diperluas, dinyatakan selesai dibangun.
Selanjutnya RD Andre dan Tim, membangun sebuah Stasi Tambahan yaitu Stasi XV, yang diberi nama Stasi Yesus Bangkit Dari Kematian, dan diresmikan pada Minggu 21 November 2021.
Tahun 2023, Pada masa RD Jhon Rusae, dibangun Patung St. Mikael di Gerbang Masuk Taman Doa. Pemberkatan Patung Santo Mikael di Taman Doa Maria Immaculata Paroki Santo Yoseph Naikoten Kupang dilakukan pada tanggal 19 Maret 2023. Pemberkatan oleh Vikjen KAK RD Gerardus Duka, setelah perayaan misa HR Santo Yoseph Suami SP Maria, didampingi oleh RD Andre J. Alo dan RD Yohanes Kartiba dan belasan imam lainnya.
Akibat terjangan siklon tropis Seroja yang merusak atap gua dan berbagai pertimbangan lainnya, RD Andre, Anggota Laborem Exercens,dll, dibantu Legio Maria dan dukungan donatur, mulai membangun Gua Maria dan Bangunan Pelindung Gua yang baru. Senin 26 Februari 2024, Pkl.18.00 wita, diadakan perayaan Ekaristi di Gua Maria Immaculata Paroki Santo Yoseph Naikoten Kupang, mengawali tahap pembangunan Gua Maria dan Bangunan Pendukungnya yang baru. Malamnya, setelah Angelus Pkl.24.00 wita, Patung St. Maria dipindahkan ke Stasi XII Taman Doa Maria Immaculata dan keesokan harinya tanggal 27 Februari atap gua dibongkar.
Sabtu 7 September 2024, Pkl.23.30 wita, diadakan Prosesi Patung St. Maria Immaculata Paroki St.Yoseph Naikoten Kupang dari Stasi XII ke Gua Maria yang baru selesai dibangun baru, di Taman Doa Maria Immaculata Paroki St.Yoseph Naikoten Kupang. Gua Maria dan Bangunan Pelindungnya yang dibangun baru terlihat lebih kokoh, luas, indah, megah dan sangat representatif untuk berbagai kegiatan kerohanian dan perayaan Liturgis.
Tanggal 31 Desember 2024, setelah misa tutup tahun, Uskup Agung Kupang YM Hironimus Pakaenoni, memberkati Gua Maria Immaculata Paroki St.Yoseph Naikoten Kupang.












Sumber :
1. Catatan Wawancara tahun 1992 dalam rangka Pesta Perak Paroki dengan Tokoh Umat Perdana: Bpk. Anton Langoday dan Ibu Tien Langoday, Bpk. Nuba Arkian dan Mama Arkian, Bpk. Solus Kua dan Ibu Nety Kua, Bapak Yan Kia Poli dan Ibu Yan Kian Poli.
2. Catatan Wawancara Tahun 2018 dalam rangka Pesta Emas Paroki dengan Bpk Apoly Bala, Bpk. Eddy Busa, Bpk. Herman Dhae, Ny. Blandina Ballo Kaluge, Ny. Sisilia Elisabeth Kaluge Mali dan Bpk. Karel Bau.
3. Catatan dari kisah lepas : Bpk. Andreas Lanang, Bpk. Ignatius Ola Wain, Bpk. Magnus da Gomez, Bpk. Remy Parera, Bpk. Rufus Patty Wutun, Bpk. Syindu Rodriquez, Bpk. Fidelis Pranda, Bpk. Frans Wongso, Bpk. Frengky Tali, Bpk. Matheos More, Bpk. Paulus Ladjar,dll.
4. Buku Keputusan Raker Dewan Paroki St. Yoseph Naikoten Kupang 1982
5. Buku 50 Tahun Paroki Bonipoi Kupang
6. Catatan, dokumen dan Pengalaman Pribadi penulis.
Selesai.
